Pascaproduksi

Pascaproduksi, juga dikenal sebagai post, adalah bagian dari proses pembuatan film, produksi video, produksi audio, dan fotografi. Pascaproduksi mencakup seluruh tahap produksi yang berlangsung setelah pengambilan gambar utama atau perekaman segmen program secara terpisah.[1][2] Berlawanan dengan namanya, pascaproduksi dapat berlangsung kapan saja selama proses perekaman dan produksi.[3]
Tahap tradisional pertama dari proses pascaproduksi, yaitu penyuntingan film non-linear (analog), sebagian besar telah digantikan oleh teknologi digital atau perangkat lunak penyuntingan video, yang berfungsi sebagai sistem penyuntingan non-linear (NLE). Keunggulan penyuntingan non-linear adalah kemampuan untuk menyunting adegan secara tidak berurutan, sehingga memungkinkan perubahan kreatif sesuai kebutuhan. Fleksibilitas ini memudahkan pembentukan film secara cermat dan bermakna untuk menghasilkan efek emosional.
Setelah tim produksi puas dengan hasil penyuntingan gambar, proses tersebut disebut locked. Pada tahap ini dimulai proses turnover, di mana gambar dipersiapkan untuk laboratorium dan penyelesaian warna, sementara suara diatur (spotted) dan diserahkan kepada komponis serta perancang suara untuk desain suara, komposisi, dan pencampuran suara.[2]
Orang awam yang tidak terbiasa dengan pascaproduksi sering kali kecewa ketika mengetahui bahwa film yang sedang dalam proses pengambilan gambar saat ini tidak akan dirilis hingga beberapa bulan atau bahkan tahun ke depan.[4] Pekerjaan pascaproduksi dapat berlangsung mulai dari enam bulan untuk film kecil hingga lebih dari satu tahun untuk film yang sarat dengan efek visual.[4]
Proses
[sunting | sunting sumber]
Pascaproduksi terdiri atas berbagai proses yang digabungkan dalam satu istilah. Proses-proses tersebut biasanya mencakup:[5]
- Ketika konten direkam menggunakan film, biasanya dipindahkan ke video, DPX, OpenEXR dengan telecine atau pemindai film modern.
- Penyuntingan konten film atau program televisi.
- Penulisan, perekaman, perekaman ulang, dan penyuntingan musik latar.
- Penambahan efek visual – terutama gambar hasil komputer (CGI) yang kemudian dikomposit ke dalam bingkai.
- Desain suara, efek suara, ADR, Foley, dan musik, yang berpuncak pada proses perekaman ulang atau pencampuran suara menggunakan peralatan audio profesional.
- Konversi 3D stereoskopis untuk konten yang direkam dalam format 2D tetapi dijadwalkan untuk perilisan 3D.
- Grading warna (dan koreksi warna) di ruang warna.
- Subtitel, takarir tertutup, atau sulih suara.
Tahap pascaproduksi dalam pembuatan film biasanya memakan waktu lebih lama dibandingkan proses pengambilan gambar. Penyelesaiannya dapat berlangsung beberapa bulan, karena mencakup penyuntingan lengkap, koreksi warna, serta penambahan musik dan suara. Proses penyuntingan film juga sering dianggap sebagai penyutradaraan kedua, karena melalui pascaproduksi dimungkinkan untuk mengubah maksud atau arah sebuah film.
Selain itu, penggunaan alat grading warna serta penambahan musik dan suara dapat sangat memengaruhi suasana film. Misalnya, film dengan nuansa biru dapat menimbulkan kesan dingin. Pilihan musik dan suara akan mengubah efek dramatik dari adegan yang diiringinya.
Televisi
[sunting | sunting sumber]Dalam televisi, tahap pascaproduksi mencakup: penyuntingan, penyuntingan video, koreksi warna, perakitan, penyuntingan suara, perekaman ulang, animasi dan penambahan efek visual, penggabungan kembali jalur audio dan video yang disunting secara terpisah, serta penyiapan untuk siaran.
Fotografi
[sunting | sunting sumber]Pascaproduksi profesional biasanya melibatkan berbagai operasi penyuntingan gambar pada format gambar mentah yang disediakan oleh fotografer atau bank gambar. Tersedia beragam perangkat lunak, baik yang bersifat komersial maupun gratis dan sumber terbuka, yang dapat dijalankan pada berbagai sistem operasi untuk melakukan pekerjaan ini.
Tahap pertama pascaproduksi biasanya memerlukan pemuatan gambar mentah ke dalam perangkat lunak pascaproduksi. Jika terdapat lebih dari satu gambar dan semuanya termasuk dalam satu set, idealnya penyunting berusaha menyamakan[perlu dijelaskan] kualitas gambar sebelum dimuat. Setelah itu, bila diperlukan, langkah berikutnya adalah memotong objek dalam gambar menggunakan Pen Tool untuk menghasilkan potongan yang rapi dan sempurna. Tahap selanjutnya adalah membersihkan gambar dengan menggunakan alat seperti healing tool, clone tool, dan patch tool.
Tahap berikutnya bergantung pada pesanan klien. Jika berupa montase foto, penyunting biasanya mulai merakit berbagai gambar menjadi satu dokumen akhir dan mengintegrasikan gambar dengan latar belakang.
Dalam bidang periklanan, biasanya diperlukan penggabungan beberapa gambar menjadi satu komposisi foto.
Jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan:
- Iklan yang membutuhkan satu latar belakang (berupa satu atau lebih gambar untuk dirakit) dan satu atau lebih model. (Biasanya paling memakan waktu, karena sering kali menggunakan gambar dari bank gambar yang kualitasnya tidak terlalu baik, dengan pencahayaan dan warna berbeda karena tidak dikendalikan oleh satu fotografer di satu lokasi.)
- Fotografi produk yang biasanya memerlukan beberapa gambar dari objek yang sama untuk dikombinasikan, guna mengendalikan pencahayaan dan mengurangi pantulan yang tidak diinginkan.
- Fotografi mode yang biasanya membutuhkan pascaproduksi intensif untuk keperluan editorial atau iklan.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Cleves, B. (2006), "Film Production Management". 3rd edition. Focal Press: Oxford.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Lynne S. Gross; James C. Foust; Thomas D. Burrows (2005). Video Production Discipline and Techniques (Edisi 9th). McGraw Hill. hlm. G11. ISBN 0-07-293548-0.
- 1 2 Hoggan, Michael (2022). Art and Craft of Motion Picture Editing. Routledge/Focal Press. ISBN 978-0-367-56878-8.
- ↑ Hodgson, Jay Understanding Records, p.231. ISBN 978-1-4411-5607-5.
- 1 2 Doyle, Barbara Freedman (2012). Make Your Movie: What You Need to Know About the Business and Politics of Filmmaking. Waltham, Massachusetts: Focal Press. hlm. 226. ISBN 978-0-240-82155-9.
- ↑ "Post-Production: A Guide Through the Fundamentals". Diakses tanggal 22 Februari 2024.