Aksi Polisionil
| ||||||||||||||||||||||||||||
Aksi Polisionil (bahasa Belanda: Politionele acties, juga politiële acties)[1] adalah dua serangan militer besar yang dilakukan Belanda di Jawa dan Sumatra terhadap Republik Indonesia selama perjuangan kemerdekaan dalam Revolusi Nasional Indonesia.[2][3] Di Indonesia, serangan ini secara kolektif dikenal sebagai Agresi Militer Belanda, meskipun terjemahan langsungnya, Aksi Polisionil, juga digunakan.[4]
Dalam historiografi dan wacana Belanda, seluruh Perang Kemerdekaan Indonesia selama beberapa dekade secara halus disebut sebagai "aksi kepolisian", sebagaimana yang dicetuskan oleh pemerintah pada saat itu. Di Belanda, kesan publik yang berlaku adalah bahwa hanya dua operasi jangka pendek ini yang telah dilakukan, yang dimaksudkan untuk melindungi Hindia Belanda dari pemberontakan yang membutuhkan tindakan kepolisian.[5][6] Perspektif ini mengabaikan fakta bahwa antara deklarasi kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945 dan penyerahan kedaulatan pada Desember 1949, telah terjadi perang selama 52 bulan.[7]
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Setelah Perang Dunia II berakhir pemerintah Belanda berselisih pendapat dengan pemerintah Indonesia yang waktu itu akan dibentuk setelah Jepang menyerah dan menduduki seluruh pulau Indonesia kecuali Jawa dan Sumatra. Di pulau-pulau tersebut saling terjadi pertempuran antara pasukan-pasukan Belanda dan Republik dan juga di pulau-pulau lain. Selain dari itu Belanda menuduh Indonesia kurang melindungi orang Indo-Eropa karena ribuan di antaranya dibunuh, sebagian dengan cara digorok. Dari mereka yang terbunuh, 5.000 orang dapat diindentifikasi dan lebih dari 20.000 orang sandera hilang.
(Sesudah pejabat-pejabat wibawa Belanda berangsur-angsur kembali ketegangan antara orang pribumi dan nonpribumi bertambah. Penduduk keturunan Tionghoa juga menjadi korban. Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengakhiri kurun waktu ini, yang berlangsung dari Oktober 1945 sampai Maret 1946. Topik ini, di Belanda disebut Periode Bersiap, masih saja pantang baik di Belanda maupun di Indonesia.)
Akhirnya ada gencatan senjata dan rundingan untuk akur politik, disebut Perundingan Linggajati.
Agresi Militer Belanda I (Operasi Produk)
[sunting | sunting sumber]Operasi Produk berlangsung antara 21 Juli dan 5 Agustus 1947.[2] Belanda secara signifikan mengurangi dan memecah-mecah wilayah yang dikuasai Indonesia, dengan fokus khusus pada pusat ekonomi Sumatra dan Pelabuhan Jawa.[8] Letnan Gubernur Jenderal Hubertus van Mook juga menganjurkan pendudukan Yogyakarta, tetapi pemerintah Belanda memutuskan untuk tidak merebut pusat pemerintahan Republik pada masa perang tersebut.[9]
Mariniersbrigade (Marbrig) yang bermarkas di Surabaya ditugaskan untuk mengamankan wilayah di Jawa Timur yang berisi 40 pabrik gula, 70 perkebunan kopi, 72 perkebunan karet, 5 perkebunan teh, dan 3 perkebunan cinchona.[10] Mereka melakukan pendaratan amfibi di Pasir Putih, Situbondo (Produk Utara) dan di utara Banyuwangi (Produk Timur) untuk menduduki wilayah timur Jawa. Serangan dari Porong (Produk Selatan) menghubungkan Surabaya ke wilayah timur melalui Pasuruan, sebelum marinir kemudian maju ke benteng Republik di Malang.[11]
Agresi Militer Belanda II (Operasi Gagak)
[sunting | sunting sumber]- artikel utama: Agresi Militer Belanda II
Operasi Kraai (Gagak) berlangsung antara 19 Desember 1948 dan 5 Januari 1949.[12] Dengan memanfaatkan unsur kejutan, pasukan Belanda merebut Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Republik, yang berujung pada pembentukan pemerintahan Indonesia di pengasingan di Sumatera Barat.[13]
Aksi Marbrig di timur laut Jawa hingga 11 Januari dikenal sebagai Operasi Zeemeeuw (Camar).[14] Unit tersebut mendarat di Glondong, Tuban dengan tujuan akhir menduduki Madiun, namun laju serangannya segera terhenti oleh parit anti-tank yang cukup besar sekitar 30 km ke arah pedalaman, yang dibangun sejak invasi Jepang ke Jawa pada tahun 1942.[15] Sejak saat itu, kolom-kolom kendaraan bermotor semakin terhambat oleh kondisi musim hujan, jembatan-jembatan yang hancur, serta ketergantungan pada jalan-jalan yang sudah tidak ada lagi dan ditumbuhi hutan jati. Karena marinir tidak memiliki resimen zeni khusus,[16] mereka harus menempuh sebagian besar jarak dengan berjalan kaki dan baru mencapai Madiun setelah kota tersebut telah direbut oleh tentara reguler.[17]
Operasi lainnya
[sunting | sunting sumber]Yang kalah besar dibandingkan dengan skala dan ketenaran Produk dan Kraai, operasi ofensif Belanda lainnya dalam Revolusi Indonesia meliputi:[18][19]
- Operasi Trackman (Gresik, 10 Agustus 1946)
- Operasi Quantico (Gresik, 19 Agustus 1946)
- Puputan Margarana (Marga, 20 November 1946)
- Kampanye Sulawesi Selatan (10 Desember 1946–21 Februari 1947)
- Operasi Ideaal (Mojokerto, 17 Maret 1947)
- Operasi Malang (30 Juni 1947)
- Operasi Carthago (Asembagus, 5 September 1947)
- Operasi Albatros (Pacitan, 12 Januari 1949)
- Operasi Otter (Teluk Prigi, 7–18 April 1949)
- Operasi Paciran (20–28 Mei 1949)
Peristiwa-Peristiwa
[sunting | sunting sumber]Zuid-Celebes-Affaire (Peristiwa Sulawesi)
[sunting | sunting sumber]Peristiwa Westerling yang terjadi sebelum aksi polisionil pertama. Di Sulawesi perlawanan terhadap Belanda keras sekali. Kapten Raymond Westerling (1919-1987), kepala DST (Depot Speciale Troepen), bertindak kejam. DST (Korps Pasukan Khusus) adalah pasukan yang berwenang beroperasi tanpa menunggu perintah KNIL. Menurut noodrecht (hak darurat) di beberapa desa banyak orang pribumi sipil dihukum mati. Juga orang-orang yang tertangkap dihukum mati tanpa proses hukum. Kadang-kadang ada penganiayaan.
Sewaktu kejadian ini terkenal, hak kewenangan khusus pasukan itu diambil. Pada April 1947 komisi Enthoven menyelidiki hal ini. Laporan ini dikirim parlemen Belanda akhir 1948, bersifat pribadi. Awal 1949 surat-surat dari tentara-tentara Belanda dibacakan di parlemen, yang juga dicatat koran-koran Belanda. Penulisnya, sekalipun demikian sering tidak melawan kehadiran militer di Indonesia, tetap melaporkan kejahatan-kejahatan perang. Pemerintah mempertimbangkan mengutus Pangeran Bernhard (suami Ratu Juliana), Pemeriksa Angkatan Darat, ke Indonesia, akan tetapi ini dianggap tidak baik untuk proses perdamaian.
Peristiwa ini sempat menimbulkan ketegangan lagi di Belanda, sewaktu ahli jiwa dr. J.E. Hueting, bekas veteran Hindia, pada 1969 menceritakan tindakan Belanda melalui TV. Penyelidikan berikut, dikepalai Cees Fasseur, menghasilkan Excessennota nota yang melaporkan 3144 korban dibunuh oleh tentara, 136 oleh polisi dan 576 oleh polisi kampung.
Jumlah ini diragukan. Indonesia melaporkan 40.000 korban. Masih saja ada jalan-jalan di Sulawesi disebut "Jalan 40.000". Memang, 42 tentara Belanda dihukum karena ini, akan tetapi tidak pernah perwira-perwira.
Nanti, DST dikerahkan upaya mendirikan RMS (Republik Maluku Selatan).
Bondowoso Dan Pakisadji
[sunting | sunting sumber]Peristiwa Bondowoso, pada tahun 1947, adalah peristiwa di mana kereta api yang mengangkut 47 tawanan orang Indonesia meninggal dunia karena kelaparan, tanpa makanan dan minuman. Beberapa tentara Belanda dihukum dua sampai delapan bulan penjara.
Kira-kira pada waktu yang sama, tentara Belanda membakar kampung Pakisadji karena pejuang-pejuang kemerdekaan menaruh ranjau-ranjau di sekitarnya. Tiga tentara Belanda menolak karena alasan etik dan dihukum dua tahun sampai dua tahun enam bulan penjara.
Pers melaporkan hal ini yang menimbulkan kemarahan masyarakat Belanda karena tentara-tentara yang berkelakuan baik dihukum lebih keras.
Akhir
[sunting | sunting sumber]Sepertiga tentara Belanda wajib militer menolak berjuang menaklukkan Indonesia. Separohnya yang menolak dipaksa ke Indonesia. Bagian lain dihukum atau melarikan diri. Jumlah tentara yang membelot ke pihak pejuang-pejuang kemerdekaan 23. Mereka dibunuh atau dihukum keras oleh Belanda. Satu-satunya yang baru sempat lolos adalah Poncke Princen, akan tetapi istrinya (pribumi) dibunuh oleh tentara Belanda sewaktu aksi itu. Poncke Princen meninggal dunia tahun 2002 sebagai WNI.
Segera sesudah pernyataan kemedekaan Indonesia semboyan pemerintah Belanda Indië verloren, rampspoed geboren artinya kehilangan Hindia kelahiran malapetaka. Kebalikan benar, sesudah pengakuan kemerdekaan Indonesia pemerintah dan pengusaha-pengusaha Belanda mengarah ke industri Eropa. Akibat, minoritas yang kaya karena Hindia kurang kaya, mayoritas rakyat Belanda berangsur-angsur mengalami kemakmuran sejak waktu itu. Sebelumnya keadaan sebagian besar rakyat Belanda buruk sampai buruk sekali, sudah sebelum perang dunia kedua.
Akhirnya lebih dari 400.000 orang Indo-Eropa (warga campuran Eropa dan Indonesia serta keturunan mereka) dan 10.000 orang Maluku tunawarga (bekas tentara KNIL dan keluarganya) pindah atau diungsikan ke Belanda.
Sebagian besar penduduk Belanda mengakui kesalahan Belanda[butuh rujukan], terutama yang lahir sesudah kemerdekaan Indonesia. Untunglah pemerintah Belanda secara resmi menyesali kejadian-kejadian sewaktu aksi-aksi polisionil dan akhirnya (2005) mengakui 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia, akan tetapi belum minta maaf (2006). Alasan, pemerintah Belanda dengan memperhatikan hati sanubari veteran Belanda dan masyarakat Maluku di Belanda.
Hingga kini pemerintah Belanda dan pemerintah Indonesia masih mencari jalan keluar atas aksi polisionil atau dikenal sebagai agresi militer ini
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "CD-ROM version". Encarta Encyclopedie Winkler Prins (dalam bahasa Belanda). Microsoft Corporation/Het Spectrum. 1993–2002.
- 1 2 Vickers, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 99. ISBN 0521542626.
- ↑ Ricklefs, Merle Calvin (1991). A history of modern Indonesia since c. 1300 (Edisi 2). Basingstoke; Stanford, California: Palgrave; Stanford University Press. hlm. 225. ISBN 033357690X.
- ↑ Adryamarthanino, Verelladevanka; Nailufar, Nibras Nada (2 August 2022). "Apa Itu Aksi Polisionil?". Kompas. Diakses tanggal 10 January 2026.
- ↑ Doolan, Paul M.M. (1 March 2022). "How Dutch Historians Unremembered Decolonization". the low countries. Diakses tanggal 8 January 2026.
- ↑ van der Burg, Jos (2 January 2024). "Selling a Colonial War: propaganda over de politionele acties" (dalam bahasa Belanda). Historisch Nieuwsblad. Diakses tanggal 6 January 2026.
- ↑ Vanheste, Tomas (5 September 2024). "'Revolusi' Corrects the Dutch Colonial Self-Image of Indonesia". Diterjemahkan oleh de Bruijn, Noor. the low countries. Diakses tanggal 8 January 2026.
- ↑ Ricklefs, Merle Calvin (1991). A history of modern Indonesia since c. 1300 (Edisi 2). Basingstoke; Stanford, California: Palgrave; Stanford University Press. hlm. 225. ISBN 033357690X.
- ↑ Barrois, Mark (22 May 2024). "Indonesische Onafhankelijkheidsoorlog (1947–1949)". Historiek.net (dalam bahasa Belanda). Historiek. Diakses tanggal 28 February 2026.
- ↑ "Strijd in Nederlands-Indie (1945 tot 1950, algemeen)". nederlandsekrijgsmacht.nl (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-02-01. Diakses tanggal 3 June 2022.
- ↑ van Schaik, Arthur (1996). Malang: beeld van een stad (dalam bahasa Belanda). Voorburg: Asia Maior. hlm. 70–73. ISBN 9074861075.
- ↑ "Operatie Kraai" (dalam bahasa Belanda). Network of War Collections. Diakses tanggal 3 June 2022.
- ↑ Kahin, George McTurnan; Kahin, Audrey (2003). Southeast Asia: A Testament. London: Routledge Curzon. ISBN 0415299756.
- ↑ Hornman, W.J.M. (1995). De Mariniersbrigade: de geschiedenis (dalam bahasa Belanda). Hoevelaken: Verba. Endpaper. ISBN 9055131687.
- ↑ Frisart, Ronald (27 November 2023). "Nederlandse moordcommando's op Java". Historiek.net (dalam bahasa Belanda). Historiek. Diakses tanggal 28 February 2026.
- ↑ Schoonoord, D.C.L. (1988). De Mariniersbrigade, 1943-1949: wording en inzet in Indonesië (dalam bahasa Belanda). The Hague: Maritime History Department of the Naval Staff. hlm. 262. ISBN 9071957136.
- ↑ "Mariniersbrigade". Indie-1945-1950.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 8 January 2026.
- ↑ Hornman, W.J.M. (1995). De Mariniersbrigade: De Geschiedenis (dalam bahasa Belanda). Hoevelaken: Verba. ISBN 9055131687.
- ↑ "Strijd in Nederlands-Indie (1945 tot 1950, algemeen)". nederlandsekrijgsmacht.nl (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-02-01. Diakses tanggal 3 June 2022.