close
Lompat ke isi

Biaya historis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Biaya historis (bahasa Inggris: historical cost), disebut pula biaya perolehan historis, adalah dasar pengukuran dalam akuntansi yang menggunakan informasi yang berasal, setidaknya sebagian, dari harga transaksi atau peristiwa lain yang menimbulkan suatu aset atau liabilitas. Pada saat aset diperoleh atau dibuat, biaya historisnya meliputi imbalan yang dibayarkan untuk memperoleh atau membuat aset tersebut serta biaya transaksi yang terkait. Untuk liabilitas, biaya historis pada saat liabilitas timbul adalah nilai imbalan yang diterima, setelah dikurangi biaya transaksi.[1]

Berbeda dengan dasar nilai kini, biaya historis pada umumnya tidak diperbarui hanya karena harga pasar atau nilai ekonomi suatu pos berubah. Namun, jumlah tersebut bukan selalu angka yang tetap. Biaya historis dapat disesuaikan untuk mencerminkan konsumsi aset melalui penyusutan atau amortisasi, penerimaan dan pembayaran, penurunan nilai, bunga, serta keadaan ketika suatu liabilitas menjadi memberatkan.[1]

Biaya historis merupakan salah satu dasar utama dalam penyusunan laporan keuangan, tetapi standar akuntansi modern biasanya menggunakan suatu model pengukuran campuran. Dalam model tersebut, sebagian pos diukur berdasarkan biaya historis atau biaya perolehan diamortisasi, sementara pos lainnya diukur menggunakan nilai wajar, nilai pakai, nilai pemenuhan, biaya kini, atau dasar pengukuran lain sesuai sifat pos dan kebutuhan pengguna laporan keuangan.[1]

Istilah biaya historis tidak berarti sekadar seluruh biaya yang pernah terjadi pada masa lalu. Dalam pelaporan keuangan, istilah tersebut menunjuk pada dasar pengukuran yang berawal dari transaksi atau peristiwa yang menciptakan aset atau liabilitas. Istilah ini juga perlu dibedakan dari beberapa konsep yang berdekatan:

  • Biaya perolehan adalah jumlah biaya untuk memperoleh atau membuat suatu aset dan menyiapkannya agar dapat digunakan atau dijual. Pada pengakuan awal, biaya perolehan sering menjadi biaya historis aset tersebut.
  • Nilai tercatat atau nilai buku adalah jumlah suatu aset atau liabilitas yang disajikan dalam laporan posisi keuangan setelah memperhitungkan penyusutan, amortisasi, penurunan nilai, pembayaran, dan penyesuaian lain. Oleh karena itu, nilai tercatat tidak selalu sama dengan biaya historis awal.
  • Biaya kini adalah jumlah yang harus dibayar pada tanggal pengukuran untuk memperoleh atau membuat aset yang setara, atau jumlah yang akan diterima untuk menanggung liabilitas yang setara.
  • Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual aset atau dibayar untuk mengalihkan liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.
  • Biaya standar adalah biaya yang ditentukan sebelumnya untuk tujuan pengendalian dan akuntansi biaya, sehingga bukan sinonim biaya historis dalam pelaporan keuangan.

Dalam berbagai bahasa, istilah ini dikenal sebagai berikut:

Bahasa Istilah
Inggris historical cost
Prancis coût historique
Jerman historische Anschaffungs- oder Herstellungskosten
Spanyol coste histórico atau costo histórico
Turki tarihi maliyet
Arab التكلفة التاريخية
Mandarin 历史成本 atau 原始成本
Jepang 取得原価; prinsip biaya historis disebut 取得原価主義

Pengukuran awal

[sunting | sunting sumber]

Biaya historis suatu aset pada saat diperoleh atau dibuat adalah nilai biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau membuat aset tersebut. Secara umum, perhitungannya dapat dinyatakan sebagai:

Biaya historis aset = imbalan yang dibayarkan + biaya transaksi dan biaya yang dapat diatribusikan langsung

Unsur biaya bergantung pada jenis aset dan standar yang berlaku. Untuk aset tetap, misalnya, biaya dapat mencakup harga pembelian setelah diskon, bea masuk dan pajak pembelian yang tidak dapat dikreditkan, biaya pengiriman, pemasangan, pengujian, jasa profesional, serta estimasi awal biaya pembongkaran dan pemulihan lokasi apabila memenuhi ketentuan pengakuan.

Aset yang dibuat sendiri dapat mencakup biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan bagian biaya produksi tidak langsung yang dialokasikan secara sistematis. Pengeluaran yang tidak diperlukan untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan biasanya dibebankan pada periode terjadinya, bukan dimasukkan ke dalam biaya historis.

Apabila aset diperoleh dalam transaksi yang tidak dilakukan berdasarkan persyaratan pasar—misalnya melalui hibah, sumbangan, pertukaran tertentu, atau transaksi dengan pihak berelasi—harga transaksi mungkin tidak tersedia atau tidak merepresentasikan aset secara tepat. Dalam keadaan demikian, standar dapat menggunakan nilai kini sebagai biaya perolehan anggapan (bahasa Inggris: deemed cost), yang selanjutnya menjadi titik awal pengukuran berdasarkan biaya historis.[1]

Liabilitas

[sunting | sunting sumber]

Biaya historis liabilitas pada saat timbul adalah nilai imbalan yang diterima karena entitas mengambil atau menanggung kewajiban tersebut, setelah dikurangi biaya transaksi. Dalam bentuk sederhana:

Biaya historis liabilitas = imbalan yang diterima − biaya transaksi

Untuk beberapa liabilitas, jumlah awal dapat berasal dari kas yang diterima. Pada kewajiban lain, jumlah tersebut dapat berasal dari nilai barang atau jasa yang diterima atau dari estimasi jumlah kas yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam kegiatan usaha normal.

Pengukuran setelah pengakuan awal

[sunting | sunting sumber]

Pengukuran berdasarkan biaya historis tidak selalu mempertahankan jumlah awal tanpa perubahan. Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan IFRS menjelaskan bahwa biaya historis aset dapat diperbarui untuk menggambarkan:[1]

  • konsumsi sebagian atau seluruh sumber daya ekonomi melalui penyusutan atau amortisasi;
  • penerimaan pembayaran yang menghapus sebagian atau seluruh aset;
  • peristiwa yang menyebabkan sebagian biaya aset tidak lagi dapat dipulihkan melalui penurunan nilai; dan
  • akrual bunga untuk mencerminkan unsur pendanaan.

Biaya historis liabilitas dapat diperbarui untuk mencerminkan:

  • pemenuhan atau penyelesaian sebagian atau seluruh kewajiban;
  • peningkatan kewajiban ketika biaya historis tidak lagi cukup menggambarkan sumber daya yang diperlukan untuk memenuhinya; dan
  • akrual bunga untuk mencerminkan unsur pendanaan.

Dengan demikian, aset tetap yang menggunakan model biaya disajikan pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. Nilai tersebut merupakan nilai tercatat berdasarkan biaya historis, bukan harga pasar aset pada tanggal pelaporan.

Biaya perolehan diamortisasi

[sunting | sunting sumber]

Untuk aset dan liabilitas keuangan tertentu, biaya historis diterapkan melalui biaya perolehan diamortisasi (bahasa Inggris: amortised cost). Jumlah awal disesuaikan sepanjang waktu untuk bunga yang dihitung dengan metode suku bunga efektif, pembayaran pokok, penerimaan kas, dan penurunan nilai aset keuangan. Walaupun menggunakan estimasi arus kas dan tingkat diskonto, dasar pengukurannya tetap berakar pada harga transaksi saat pengakuan awal.[1]

Sebuah perusahaan membeli mesin dengan rincian sebagai berikut:

Keterangan Jumlah
Harga mesin Rp500.000.000
Dikurangi diskon pembelian (Rp20.000.000)
Biaya pengiriman Rp10.000.000
Biaya pemasangan dan pengujian Rp15.000.000
Biaya historis awal Rp505.000.000

Apabila mesin mempunyai umur manfaat lima tahun, tidak memiliki nilai residu, dan disusutkan dengan metode garis lurus, beban penyusutannya adalah Rp101.000.000 per tahun. Setelah dua tahun, sebelum mempertimbangkan penurunan nilai, nilai tercatat mesin menjadi:

Rp505.000.000 − (2 × Rp101.000.000) = Rp303.000.000

Jika nilai pasar mesin pada saat itu adalah Rp400.000.000, kenaikan dibandingkan nilai tercatat tidak otomatis diakui dalam model biaya. Sebaliknya, apabila terdapat indikasi bahwa jumlah yang dapat dipulihkan turun di bawah Rp303.000.000, entitas dapat diwajibkan mengakui rugi penurunan nilai.

Contoh ini juga menunjukkan perbedaan antara biaya historis awal sebesar Rp505.000.000 dan nilai tercatat setelah dua tahun sebesar Rp303.000.000.

Penerapan dalam standar akuntansi

[sunting | sunting sumber]

Persediaan

[sunting | sunting sumber]

IAS 2 Inventories mensyaratkan persediaan diukur pada jumlah yang lebih rendah antara biaya dan nilai realisasi neto. Biaya persediaan mencakup biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisi saat ini. Apabila nilai realisasi neto turun di bawah biaya, persediaan diturunkan nilainya; kenaikan harga pasar di atas biaya tidak dengan sendirinya menaikkan nilai tercatat persediaan.[2]

Pengukuran pada jumlah yang lebih rendah antara biaya dan nilai realisasi neto merupakan contoh dasar biaya historis yang dimodifikasi oleh pengujian keterpulihan. Pendekatan tersebut mencegah persediaan dicatat melebihi jumlah yang diperkirakan dapat diperoleh dari penjualan.

Aset tetap

[sunting | sunting sumber]

IAS 16 Property, Plant and Equipment memperbolehkan entitas memilih antara model biaya dan model revaluasi sebagai kebijakan akuntansi untuk suatu kelas aset tetap. Dalam model biaya, aset dicatat pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. Dalam model revaluasi, aset disajikan pada jumlah revaluasian berdasarkan nilai wajar, dikurangi penyusutan dan penurunan nilai selanjutnya.[3]

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan biaya historis dalam IFRS tidak bersifat mutlak. Dasar pengukuran dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik aset dan informasi yang paling berguna bagi pengguna laporan keuangan.

Instrumen keuangan

[sunting | sunting sumber]

Sebagian instrumen keuangan diukur pada biaya perolehan diamortisasi, sedangkan instrumen lainnya diukur pada nilai wajar. Kerangka konseptual IFRS menyatakan bahwa biaya perolehan diamortisasi tidak dapat memberikan informasi yang relevan bagi instrumen derivatif karena nilainya sangat peka terhadap faktor pasar dan risiko. Oleh sebab itu, perubahan nilai instrumen tertentu perlu tercermin melalui pengukuran nilai kini.[1]

Ekonomi hiperinflasi

[sunting | sunting sumber]

Keterbatasan biaya historis menjadi sangat nyata ketika mata uang kehilangan daya beli dengan cepat. IAS 29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies menyatakan bahwa laporan keuangan dalam ekonomi hiperinflasi hanya berguna apabila dinyatakan dalam unit pengukuran yang berlaku pada akhir periode pelaporan. Pos nonmoneter yang dicatat berdasarkan biaya atau biaya setelah penyusutan disajikan kembali menggunakan perubahan indeks harga umum sejak tanggal perolehan.[4]

IAS 29 menyebut beberapa indikator hiperinflasi, termasuk keadaan ketika inflasi kumulatif selama tiga tahun mendekati atau melebihi 100 persen. Angka tersebut merupakan salah satu indikator dan bukan ambang tunggal yang berdiri sendiri.[4]

Di Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan Indonesia mengelompokkan dasar pengukuran ke dalam biaya historis dan nilai kini. Nilai kini mencakup nilai wajar, nilai pakai untuk aset, nilai pemenuhan untuk liabilitas, serta biaya kini. Pengelompokan ini mengikuti kerangka konseptual IFRS yang diadopsi ke dalam kerangka pelaporan keuangan Indonesia.[5]

Dalam SAK Indonesia untuk EMKM, biaya historis menjadi dasar pengukuran utama. Standar tersebut mendefinisikan biaya historis aset sebagai jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh aset pada saat perolehan. Biaya historis liabilitas adalah jumlah kas atau setara kas yang diterima atau jumlah kas yang diperkirakan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal.[6]

Ikatan Akuntan Indonesia menjelaskan bahwa SAK Indonesia untuk EMKM menggunakan biaya historis secara murni untuk menyederhanakan pencatatan aset dan liabilitas oleh entitas dengan transaksi yang relatif tidak kompleks. Standar tersebut berlaku efektif sejak 1 Januari 2018.[7]

Perbandingan dengan dasar pengukuran lain

[sunting | sunting sumber]
Aspek Biaya historis Nilai wajar Biaya kini
Titik acuan Transaksi atau peristiwa yang menimbulkan aset atau liabilitas Harga keluar dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran Biaya untuk memperoleh aset setara atau imbalan untuk menanggung liabilitas setara pada tanggal pengukuran
Perubahan harga Umumnya tidak diakui sampai terjadi penjualan, konsumsi, penurunan nilai, atau peristiwa lain Diperbarui untuk mencerminkan kondisi pasar saat tanggal pengukuran Diperbarui untuk mencerminkan harga penggantian atau pemenuhan saat ini
Dasar informasi Harga transaksi aktual dan biaya yang terkait Harga pasar yang dapat diamati atau teknik penilaian Harga aset atau liabilitas setara, yang kadang harus diestimasi
Kegunaan utama Informasi tentang biaya, margin transaksi, dan pertanggungjawaban penggunaan sumber daya Informasi tentang ekspektasi pelaku pasar dan nilai kini Informasi tentang biaya penggantian dan margin berdasarkan harga saat konsumsi
Kelemahan utama Dapat berbeda jauh dari nilai kini dan mengurangi keterbandingan antaraset yang diperoleh pada waktu berbeda Dapat berubah-ubah dan bergantung pada estimasi apabila pasar aktif tidak tersedia Dapat kompleks karena aset pengganti yang benar-benar sebanding mungkin tidak tersedia

Tidak ada dasar pengukuran yang selalu paling tepat untuk seluruh aset dan liabilitas. Pemilihan dasar pengukuran mempertimbangkan relevansi, representasi tepat, keterbandingan, keterverifikasian, keterpahaman, serta biaya penyediaan informasi.[1]

Kelebihan

[sunting | sunting sumber]

Kelebihan biaya historis antara lain:

  • Berbasis transaksi yang telah terjadi. Jumlah awal umumnya didukung oleh faktur, kontrak, bukti pembayaran, dan dokumen lain.
  • Relatif sederhana dan murah. Dalam banyak keadaan, pengukuran biaya historis lebih mudah dan lebih murah daripada melakukan pengukuran nilai kini secara berkala.
  • Dapat diverifikasi. Harga transaksi dan biaya yang dapat diatribusikan sering dapat diperiksa kembali, meskipun estimasi penyusutan dan penurunan nilai tetap dapat mengandung pertimbangan.
  • Mendukung pengukuran margin. Biaya aset yang dijual atau dikonsumsi dapat dibandingkan dengan pendapatan terkait untuk menjelaskan margin yang diperoleh.
  • Membantu penilaian pengelolaan sumber daya. Informasi biaya dapat digunakan untuk menilai bagaimana manajemen menggunakan sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
  • Tidak langsung mengakui kenaikan yang belum direalisasi. Kenaikan harga pasar biasanya tidak diakui hanya karena aset masih dimiliki apabila entitas menggunakan model biaya.

Kerangka konseptual IFRS menyatakan bahwa informasi biaya aset yang dijual atau dikonsumsi dapat memiliki nilai prediktif dan konfirmatori karena membantu pengguna memperkirakan margin masa depan serta mengevaluasi efisiensi pengelolaan sumber daya.[1]

Keterbatasan dan kritik

[sunting | sunting sumber]

Keterbatasan biaya historis meliputi:

  • Tidak mencerminkan kondisi pasar terkini. Nilai aset yang telah dimiliki dalam jangka panjang dapat berbeda secara material dari nilai ekonominya pada tanggal pelaporan.
  • Keterbandingan dapat berkurang. Dua aset identik yang dibeli pada waktu berbeda dapat dicatat pada jumlah yang berbeda karena perubahan harga.
  • Pengakuan perubahan nilai dapat tertunda. Kenaikan atau penurunan nilai tertentu baru terlihat ketika aset dijual, diturunkan nilainya, atau dihentikan pengakuannya. Akibatnya, laba yang dilaporkan saat penjualan dapat mencakup perubahan nilai yang sebenarnya terkumpul selama beberapa periode.
  • Terpengaruh perubahan daya beli uang. Penjumlahan jumlah moneter dari tanggal yang berbeda dapat menyesatkan ketika inflasi tinggi karena unit moneter tidak lagi mempunyai daya beli yang sebanding.
  • Tidak menunjukkan biaya peluang atau biaya penggantian. Beban penyusutan berdasarkan harga lama dapat lebih rendah daripada biaya yang diperlukan untuk mengganti aset pada harga sekarang.
  • Tetap membutuhkan estimasi. Umur manfaat, nilai residu, pola konsumsi, penurunan nilai, dan liabilitas memberatkan dapat bersifat subjektif. Karena itu, biaya historis tidak selalu sepenuhnya objektif atau bebas dari ketidakpastian pengukuran.

Kerangka konseptual IFRS menegaskan bahwa apabila nilai aset atau liabilitas sangat peka terhadap faktor pasar, biaya historis mungkin tidak memberikan informasi yang cukup relevan. Kerangka tersebut juga mengakui bahwa estimasi konsumsi, penurunan nilai, dan liabilitas memberatkan dapat membuat pengukuran biaya historis sama sulitnya dengan pengukuran nilai kini dalam keadaan tertentu.[1]

Penelitian empiris tidak menunjukkan bahwa satu dasar pengukuran selalu mengungguli yang lain. Sebuah penelitian mengenai persediaan perusahaan di Britania Raya menemukan bahwa informasi laba berdasarkan biaya historis tetap relevan bagi investor, sedangkan perubahan nilai wajar memberikan informasi tambahan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa informasi biaya historis dan nilai wajar dapat saling melengkapi, bukan selalu saling menggantikan.[8]

Model pengukuran campuran

[sunting | sunting sumber]

Pelaporan keuangan kontemporer biasanya tidak menggunakan biaya historis atau nilai wajar secara eksklusif. Model pengukuran campuran memungkinkan:

  • persediaan diukur pada jumlah yang lebih rendah antara biaya dan nilai realisasi neto;
  • aset tetap diukur menggunakan model biaya atau model revaluasi;
  • instrumen keuangan tertentu diukur pada biaya perolehan diamortisasi dan instrumen lain pada nilai wajar;
  • aset berdasarkan biaya diuji untuk penurunan nilai;
  • nilai wajar atau nilai kini digunakan sebagai biaya perolehan anggapan dalam keadaan tertentu; dan
  • laporan keuangan dalam ekonomi hiperinflasi disajikan kembali menurut unit pengukuran pada akhir periode.

Penggunaan beberapa dasar pengukuran dapat meningkatkan relevansi informasi, tetapi juga membuat laporan keuangan lebih kompleks. Oleh karena itu, standar akuntansi menetapkan dasar yang berbeda menurut sifat aset atau liabilitas dan cara pos tersebut menghasilkan atau memengaruhi arus kas.[1]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Conceptual Framework for Financial Reporting" (PDF) (dalam bahasa Inggris). IFRS Foundation. 2018. paragraf 6.1–6.11, 6.24–6.31, dan 6.43–6.76. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  2. "IAS 2 Inventories" (dalam bahasa Inggris). IFRS Foundation. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  3. "IAS 16 Property, Plant and Equipment" (dalam bahasa Inggris). IFRS Foundation. paragraf 29–31. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  4. 1 2 "IAS 29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies" (dalam bahasa Inggris). IFRS Foundation. paragraf 2–15. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  5. "Modul CAFB—Akuntansi Keuangan 2025". Ikatan Akuntan Indonesia. 2025. hlm. 28. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  6. "Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah". Ikatan Akuntan Indonesia. 2016. paragraf 2.15–2.16. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  7. "Standar Akuntansi Keuangan Indonesia untuk Entitas Mikro, Kecil dan Menengah". Ikatan Akuntan Indonesia. 23 Oktober 2023. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  8. Badenhorst, Wessel M.; von Well, Riana (2023). "The Value-Relevance of Fair Value Measurement for Inventories". Australian Accounting Review (dalam bahasa Inggris). 33 (2): 135–159. doi:10.1111/auar.12382.