close
Lompat ke isi

Pelog

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pendekatan notasi musik Barat untuk tangga nada Pelog.[1] Play
Pelog bem.[1] Play
Pelog barang.[1] Play

Pelog adalah satu dari dua tangga nada (laras) pokok dipakai dalam musik gamelan asli dari masyarakat di Pulau Bali (juga sebagian Pulau Lombok) dan Pulau Jawa di Indonesia. Laras yang lainnya adalah slendro.[2] Tangga nada pelog dibentuk dengan cara merangkaikan interval perfektum empat dengan interval yang cukup lebar, sekitar 515 sampai 535 sen. Interval ini berada pada jarak yang ekstrem yang dapat didengar sebagai interval keempat.

Laras pelog yang lengkap memiliki tujuh nada yang berbeda (suatu rangkaian dari enam interval keempat), tetapi biasanya suatu komposisi akan ditulis dalam lima nada. Dalam pengajaran tradisional, ketujuh nada dalam skala pelog disebut bem, gulu, dhadha, pelog, lima, enem, dan barang.[3][4]

Nada dalam skala dengan dua interval yang berbeda, dilambangkan dengan L dan S, adalah: gulu-S-dhadha-L-pelog-S-lima-S-enem-S-barang-L-bem-S-gulu. Dalam hal ini, S adalah sekitar 110–150 sen dan L adalah sekitar 250–300 sen.

Kalau disetarakan dengan tangga nada diatonis, susunan tangga nada pelog kurang lebih sama dengan susunan tangga nada mayor (do, re, mi, fa, so, la, si, do). Adaptasi gamelan ke alat musik Barat, seperti yang terdapat pada gendhing gati, banyak mengandalkan tangga nada pelog yang lebih dekat ke tangga nada diatonis Barat.[5] Hanya saja, yang dominan digunakan adalah 5 nada (do, mi, fa, sol, si, do) sedangkan yang duanya (re, dan la) menjadi nada sisipan. Nada sisipan bukannya tidak digunakan tetapi jarang hanya untuk lagu-lagu tertentu saja yang ada unsur sisipannya.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "The representations of slendro and pelog tuning system in Western notation shown above should not be regarded in any sense as absolute. Not only is it difficult to convey non-Western scales with Western notation, but also because, in general, no two gamelan sets will have exactly the same tuning, either in pitch or in interval structure. There are no Javanese standard forms of these two tuning systems." Lindsay, Jennifer (1992). Javanese Gamelan, p.39-41. ISBN 0-19-588582-1.
  2. S.Pd.,M.Sn, Didin Supriadi, S. Sen ,M Pd, Saryanto, M. Sn, Gandung, Joko Srimoko, S. Sn, M. Sn, Dani Nur Saputra (2024-01-28). Karawitan Dasar Minang dan Jawa. Cv. Azka Pustaka. hlm. 21. ISBN 978-623-8214-96-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. Herman, Rechberger (2018-02-01). Scales and Modes Around the World: The complete guide to the scales and modes of the world (dalam bahasa Inggris). Fennica Gehrman Ltd. hlm. 173–177. ISBN 978-952-5489-28-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. Rubiono, Purwo (2012). Misteri pelog dan slendro. Dinas Pendidikan Propinsi Banten bekerjasama dengan Lembaga Keilmuan dan Kebudayaan nimusInstitute. hlm. 25–28. ISBN 978-602-18158-2-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Sumarsam (2016). "Soal-soal Masa Lampau dan Kini Seputar Hibriditas Musik Jawa-Eropa: Gendhing Mares dan Genre-Genre Hibrid Lain". Dalam Barendregt, Bart; Bogaerts, Els (ed.). Merenungkan Gema: Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Diterjemahkan oleh Simatupang, Landung. Jakarta: KITLV Jakarta dan Pustaka Obor. hlm. 104. ISBN 9789794616352. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)