Xiongnu
Xiongnu | |||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Abad ke-3 SM–460-an M | |||||||||||||||||||||||||
Wilayah Xiongnu (hijau), Sekitar 250 SM | |||||||||||||||||||||||||
| Status | Konfederasi Nomad | ||||||||||||||||||||||||
| Ibu kota | Longcheng (龙城/蘢城), dekat Khoshoo Tsaidam (Mongolia modern), dijadikan tempat pertemuan tahunan, dan ibukota de facto | ||||||||||||||||||||||||
| Agama | Kemungkinan Tengriisme[1][2] | ||||||||||||||||||||||||
| Chanyu | |||||||||||||||||||||||||
• 240–209 SM | Touman | ||||||||||||||||||||||||
• 94–118 M | Feng-hou (Utara) | ||||||||||||||||||||||||
• 195 M | Huchuquan (Selatan) | ||||||||||||||||||||||||
| Sejarah | |||||||||||||||||||||||||
• Didirikan | Abad ke-3 SM | ||||||||||||||||||||||||
• Dibubarkan | 460-an M | ||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||
| Sejarah Xinjiang |
|---|
Xiongnu (Hanzi: 匈奴; Pinyin: Xiōngnú; Wade–Giles: Hsiung-nu; Middle Chinese Guangyun: [xi̯woŋ˥˩nu˩]) adalah bangsa kuno berbasis nomad yang mendirikan suatu negara atau konfederasi di Mongolia dan Tiongkok.[3] Sebagian besar informasi mengenai Xiongnu berasal dari sumber-sumber Tiongkok, sehingga nama-nama dan gelar Xinongnu yang diketahui sekarang merupakan transliterasi bahasa Tionghoa dari bahasa asli Xiongnu.
Identitas inti etnik Xiongnu tak diketahui secara pasti, karena hanya sedikit kata, terutama gelar dan nama pribadi, yang terdapat dalam sumber-sumber Tiongkok. Pendapat dari sejarawan mengenai bahasa yang dituturkan oleh bangsa Xiongnu antara lain bahasa Mongol, bahasa Turk, bahasa Yenisi,[4][5] bahasa Tokharia, dan bahasa Ural.[6] Nama Xiongnu kemungkinan merupakan kognat bagi nama suku Hun, tetapi bukti untuk pendapat ini cukup kontroversial.[5][7]
Sumber-sumber Tiongkok dari abad ke-3 SM melaporkan bahwa bangsa Xiongnu mendirikan sebuah kekaisaran di bawah Modu Chanyu, pemimpin agung mereka setelah tahun 209 SM.[8] Kekaisaran ini membentang melampau perbatasan Mongolia modern. Setelah mengalahkan suku Yuezhi yang sebelumnya dominan pada abad ke-2 SM, Xiongnu menjadi kekuasaan yang dominan di stepa di Asia timur. Mereka aktif di Siberia, Mongolia, Manchuria barat, dan provinsi Mongolia Dalam, Gansu dan Xinjiang di Tiongkok. Hubungan antara dinasti-dinasti awal Tiongkok dengan Xiongnu cukup rumit, dengana adanya periode konflik militer dan intrik yang berulang dan silih berganti, serta ada pula pertukaran upeti, perdagangan, dan kesepakatan pernikahan.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sejarah awal
[sunting | sunting sumber]Sima Qian menuliskan, berdasarkan catatan Tiongkok yang lebih awal (Tawarikh Babmu), bahwa klan penguasa Xiongnu merupakan keturunan Chunwei (淳維 "suku Chun"), kemungkinan putra Jie, penguasa terakhir dari Dinasti Xia yang kemungkinan merupakan legenda (sek. 2070–1600 SM).
Xiongnu pada awalnya merupakan kumpulan suku kecil yang tinggal di dataran tinggi Mongolia yang tandus. Mereka diakui sebagai salah satu noman paling terkenal yang berbatasan dengan Kekaisaran Han.[9] Selama Dinasti Zhou Timur (1045–256 SM), kampanye militer oleh negara bawahan Zhou untuk menekan "bangsa barbar" jahat lainnya memungkinkan Xiongnu untuk memperoleh kesempatan untuk mengisi kekosongan kekuasaan. Nomad yang baru bangkit ini menjadi masalah besar bagi Tiongkok, karena gaya hidup mereka yang berbasis kuda membuat mereka mampu melancarkan invasi secara cepat dan menyerbu pedesaaan dan perkotaan kecil. Selama Periode Negara Perang (476–221 SM), tiga dari tujuh negara perang berbatasan dengan wilayah Xiongnu, dan serangkaan benteng pertahanan yang saling bersambungan pun dibangun, yang kelak digabungkan menjadi Tembok Besar.
Selama Dinasti Qin (221 hingga 206 SM), pasukan Tiongkok, di bawah komando Jenderal Meng Tian, menghalau bangsa Xiongnu hingga mereka menjauh. ia juga merebut kembali daerah Ordos. Kehadiran suku Donghu yang kuat di timur dan suku Yuezhi di barat juga membuat bangsa Xiongu semakin terdesak, memaksa mereka berpindah lebih jauh ke utara selama dekade berikutnya. Dengan runtuhnya Dinasti Qin dan perang saudara yang terjadi selanjutnya (206–202 SM), bangsa Xiongnu, di bawah Chanyu Toumen, mampu bermigrasi kembali ke wilayah perbatasan Tiongkok.
Konfederasi
[sunting | sunting sumber]Pada 209 SM, tiga tahun sebelum berdirinya Dinasti Han, Xiongnu bersatu dalam sebuah konfederasi yang kuat di bawah seorang chanyu baru yang bernama Modu Chanyu. Kesatuan politik yang baru ini mengubah mereka menjadi negara yang lebih tangguh dengan memungkinkan pembentukan pasukan yang lebih besar dan kemampuan untuk melaksanakan koordinasi strategi yang lebih baik. Alasan untuk menciptakan konfederasi tidak diketahui secara pasti. Diduga bahwa mereka membutuhkan negara yang lebih kuat untuk berhadapan dengan penyatuan Tiongkok oleh Qin[10] yang berakibat pada lepasnya Ordos di tangan Meng Tian, atau krisis politik yang melanda Xiongnu pada tahun 215 SM, ketika pasukan Qin mengusir mereka dari padang rumput mereka di Sungai Kuning;[11]
Setelah menjalin kesatuan dalam negeri, Modi memperluas kekaisarannya ke segala arah. Ke utara, ia menaklukan sejumlah bangsa nomad, termasuk suku Dingling di Siberia selatan. Ia memusnahkan kekuasaan suku Donghu di Mongolia timur dan Manchuria, serta mengalahkan Yuezhi di Koridor Hexi di Gansu di mana putranya Jizhu membuat membuat gelas dari tengkorak raja Yuezhi. Modu juga menduduki ulang semua wilayah yang sebelumnya direbut oleh jenderal Qin, Meng Tian. Di bawah kepemimpinan Modu, Xiongnu menjadi ancaman bagi Dinasti Han, bahkan nyaris membuat Liu Bang kehilangan tahtanya pada 200 SM.[9] Setelah Modu meninggal pada 174 SM, Xiongnu telah mengusir suku Yuezhi dari Koridor Hexi, membunuh raja Yuezhi dalam prosesnya dan memantapkan kehadiran mereka di Daerah Barat Xinjiang.
Setelah masa Modu, para pemimpin Xiongnu berikutnya membentuk sistem organisasi politik dualisme dengan cabang Xiongnu kiri dan kanan dibagi pada basis regional. Chanyu atau shan-yü – penguasa tertinggi yang setara dengan "Putra Langit" di Tiongkok – memiliki otoritas langsung atas wilayah di tengahnya. Longcheng (蘢城), dekat Khöshöö Tsaidam di Mongolia, menjadi tempat pertemuan tahunan dan dijadikan ibu kota Xiongnu.[12]
Pada musim dingin tahun 200 SM, menyusul pengepungan Taiyuan, Kaisar Gao secara langsung memimpin sebuah kampanye militer melawan Modun. Pada Pertempuran Baideng, ia disergap oleh pasukan yang diduga berjumlah sekitar 300.000 kavaleri elite Xiongnu. Sang kaisar terputus dari perbekalan dan bala bantuan selama tujuh hari, dan nyaris tak dapat melarikan diri.
Setelah kekalahan di Pingcheng, kaisar Han mengabaikan solusi militer terhadap ancaman Xiongnu. Alih-alih, pada 198 SM, pejabat istana, Liu Jing (劉敬) dikirim untuk bernegosiasi. Kesepakatan damai akhirnya dicapai antara kedua belah pihak, yang meliputi pernikahan pangerah Han dalam suatu chanyu (disebut heqin 和親 untuk "kekerabatan harmonis"); hadiah rutin untuk Xiongnu yang berupa sutra, minuman keras, dan beras; status yang setara antara kedua negara; dan Tembok Besar sebagai perbatasan bersama.
Rezim Utara dan Selatan
[sunting | sunting sumber]Kekuatan baru Xiongnu disambut dengan kebijakan perdamaian oleh Kaisar Guangwu. Pada puncak kekuasaannya, Huduershi bahkan membandingkan dirinya dengan leluhurnya yang termasyhur, Modu. Namun, karena meningkatnya regionalisme di antara Xiongnu, Huduershi tidak pernah mampu membangun otoritas yang tak terbantahkan. Bertentangan dengan prinsip suksesi persaudaraan yang ditetapkan oleh Huhanye, Huduershi menunjuk putranya, Punu, sebagai pewaris takhta. Namun, sebagai putra tertua dari chanyu sebelumnya, Bi (Pi)—Raja Rizhu dari Kanan—memiliki klaim yang lebih sah. Akibatnya, Bi menolak untuk menghadiri pertemuan tahunan di istana chanyu. Meskipun demikian, pada tahun 46 M, Punu naik takhta.
Pada tahun 48 M, sebuah konfederasi dari delapan suku Xiongnu di basis kekuasaan Bi di selatan, dengan kekuatan militer berjumlah 40.000 hingga 50.000 orang, memisahkan diri dari kerajaan Punu dan mengangkat Bi sebagai chanyu. Kerajaan ini kemudian dikenal sebagai Xiongnu Selatan (Hanzi: 南匈奴; Pinyin: Nán Xiōngnú).
Xiongnu Utara
[sunting | sunting sumber]Kerajaan sisa di bawah Punu, di sekitar Orkhon (Mongolia tengah utara modern) dikenal sebagai Xiongnu Utara (Hanzi: 北匈奴; Pinyin: Běi Xiōngnú), dengan Punu, dikenal sebagai Chanyu Utara. Pada tahun 49 M, Xiongnu Utara mengalami kekalahan telak dari Xiongnu Selatan. Pada tahun yang sama, Zhai Tong, seorang gubernur Han di Liaodong juga membujuk Wuhuan dan Xianbei untuk menyerang Xiongnu Utara.[13] Tak lama kemudian, Punu mulai mengirim utusan beberapa kali untuk bernegosiasi damai dengan Dinasti Han, tetapi hanya sedikit atau bahkan tidak ada kemajuan yang dicapai.
Pada tahun 60-an, Xiongnu Utara kembali memulai permusuhan karena mereka berusaha memperluas pengaruh mereka ke Wilayah Barat dan melancarkan serangan ke perbatasan Han. Pada tahun 73, Han menanggapi dengan mengirim Dou Gu dan Geng Chong untuk memimpin ekspedisi besar melawan Xiongnu Utara di Lembah Tarim. Ekspedisi tersebut, yang menyaksikan keberhasilan jenderal terkenal, Ban Chao, awalnya berhasil, tetapi Han harus mundur sementara pada tahun 75 karena masalah di dalam negeri. Ban Chao tetap tinggal dan mempertahankan pengaruh Tiongkok atas Wilayah Barat sebelum kematiannya pada tahun 102.[14][15]
Selama dekade berikutnya, Xiongnu Utara harus menanggung kelaparan yang sebagian besar disebabkan oleh wabah belalang. Pada tahun 87, mereka menderita kekalahan besar dari Xianbei, yang membunuh chanyu mereka, Youliu, dan mengambil kulitnya sebagai trofi. Dengan Xiongnu Utara yang kacau, jenderal Han, Dou Xian, melancarkan ekspedisi dan menghancurkan mereka dalam Pertempuran Pegunungan Altai pada tahun 89. Setelah serangan Han lainnya pada tahun 91, Chanyu Utara melarikan diri bersama para pengikutnya ke barat laut, dan tidak terlihat lagi, sementara mereka yang tetap tinggal menyerah kepada Han.[14]
Pada tahun 94, karena tidak puas dengan chanyu yang baru diangkat, Xiongnu Utara yang menyerah memberontak dan mengangkat Fenghou sebagai chanyu mereka, yang memimpin mereka untuk melarikan diri ke luar perbatasan. Namun, rezim separatis terus menghadapi kelaparan dan ancaman Xianbei yang semakin besar, mendorong 10.000 dari mereka untuk kembali ke Han pada tahun 96. Fenghou kemudian mengirim utusan ke Han dengan maksud untuk tunduk sebagai vasal tetapi ditolak. Xiongnu Utara tercerai-berai, sebagian besar dari mereka diserap oleh Xianbei. Pada tahun 118, Fenghou yang kalah membawa sekitar 100 pengikut untuk menyerah kepada Han.[14]
Sisa-sisa Xiongnu Utara bertahan di Lembah Tarim sambil bersekutu dengan Kerajaan Jushi yang lebih dekat dan merebut Yiwu pada tahun 119. Pada tahun 126, mereka ditaklukkan oleh jenderal Han, Ban Yong, sementara cabang yang dipimpin oleh "Raja Huyan" terus melakukan perlawanan. Raja Huyan terakhir kali disebutkan pada tahun 151 ketika ia melancarkan serangan ke Yiwu tetapi diusir oleh pasukan Han. Menurut Kitab Wei abad kelima, sisa-sisa suku Chanyu Utara menetap sebagai Yueban, dekat Kucha dan menaklukkan Wusun; sementara sisanya melarikan diri melintasi Pegunungan Altai menuju Kangju di Transoxania. Disebutkan bahwa kelompok ini kemudian menjadi Hun Putih.[16][17][18] Xiongnu Utara secara tidak langsung menjadi leluhur dari suku Hun yang kemudian menghancurkan Kekaisaran Romawi.
Xiongnu Selatan
[sunting | sunting sumber]Secara kebetulan, Xiongnu Selatan dilanda bencana alam dan kemalangan—terlepas dari ancaman yang ditimbulkan oleh Punu. Oleh karena itu, pada tahun 50 M, Xiongnu Selatan tunduk pada hubungan upeti dengan Dinasti Han Tiongkok. Chanyu diperintahkan untuk mendirikan istananya di Kabupaten Meiji, Komanderi Xihe, sementara para pengikutnya dipindahkan ke delapan komando perbatasan. Pada saat yang sama, sejumlah besar orang Tiongkok juga dipindahkan ke komando-komando ini, dalam pemukiman campuran Han-Xiongnu. Secara ekonomi, Xiongnu Selatan menjadi bergantung pada perdagangan dengan Han dan subsidi tahunan dari istana Tiongkok.
Xiongnu Selatan berperan sebagai pasukan pembantu dalam mempertahankan perbatasan utara dari pasukan nomaden dan bahkan berperan dalam mengalahkan Xiongnu Utara. Namun, bahkan dengan jatuhnya pasukan utara mereka, mereka terus menderita akibat serangan yang tak henti-hentinya, kali ini oleh orang-orang Xianbei dari stepa. Selain iklim dan kondisi hidup yang buruk di daerah perbatasan, politik mereka juga diganggu oleh istana Tiongkok, yang sering menempatkan chanyu yang berpihak pada kepentingan Han. Akibatnya, Xiongnu Selatan memberontak dari waktu ke waktu, kadang-kadang bergabung dengan Wuhuan dan menerima dukungan dari Xianbei.
Pada akhir abad ke-2 Masehi, Chanyu mulai mengirim orang-orangnya untuk menangani masalah internal Han; pertama melawan Pemberontakan Serban Kuning dan kemudian melawan Wuhuan di Hebei pada tahun 188. Banyak Xiongnu khawatir bahwa tindakannya akan menjadi preseden untuk pengabdian militer tanpa akhir kepada istana Han. Pada saat itu, seorang vasal lain, Xiuchuge, telah memberontak di Bingzhou dan membunuh inspektur provinsi. Kemudian, faksi pemberontak di antara Xiongnu Selatan bersekutu dengan mereka dan membunuh Chanyu juga. Istana Han menunjuk putranya, Yufuluo, yang bergelar Chizhi Shizhu, untuk menggantikannya, tetapi ia diusir dari wilayahnya oleh para pemberontak.
Yufuluo meminta bantuan dari pemerintah pusat kepada istana Han, namun pemerintah Han menjadi kacau akibat perseteruan para kasim istana dengan He Jin dan intervensi dari Dong Zhuo. Yufuluo kemudian membawa pengikutnya untuk bermukim di sekitar Pingyang di sebelah timur Sungai Fen di Shanxi masa kini, dimana ia meninggal dan digantikan oleh kakaknya Huchuquan. Sementara itu, para pemberontak juga menunjuk seorang Chanyu tandingan. Namun ia meninggal tidak setahun memerintah. Mereka membiarkan posisi itu kosong dan menempatkan seorang raja nominal yang sudah lanjut usia di tempatnya. Seiring melemahnya kekuasaan chanyu, banyak suku Xiongnu Selatan memisahkan diri dan menghindari perang saudara Han yang sedang berlangsung. Kelompok Huchuquan dan Xiuchuge terjebak dalam konflik internal Tiongkok dan kedua kelompok tersebut dikuasai oleh Cao Cao.[19]
Keturunan
[sunting | sunting sumber]Suku Xiongnu berperan banyak di sejarah Tiongkok setelah keruntuhan Dinasti Jin Barat. Meskipun Xiongnu Selatan juga runtuh dan nama Xiongnu tidak digunakan, banyak sisa-sisa suku ini dapat ditemukan di berbagai suku barbar lainnya dan juga asimilasi dengan suku Han. Politik di Lima Divisi didominasi oleh Chuge, yang menjadi label baru bagi kaum mereka, sementara di luar kelompok tersebut, suku-suku Xiongnu berbaur satu sama lain serta dengan etnis Han Tiongkok, Xianbei, Wuhuan, dan etnis lainnya di sekitarnya. Banyak dari mereka mengadopsi nama keluarga Tiongkok seperti Liu, yang sangat umum di kalangan Lima Divisi.[20]
Dampak
[sunting | sunting sumber]Konfederasi Xiongnu memiliki umur yang luar biasa panjang untuk sebuah kekaisaran stepa. Tujuan penyerangan Zhongyuan bukan hanya untuk mendapatkan barang, tetapi untuk memaksa penguasa Zhong Yuan membayar upeti secara teratur. Kekuasaan penguasa Xiongnu didasarkan pada kendalinya atas upeti Han yang digunakannya untuk memberi penghargaan kepada para pendukungnya. Kekaisaran Han dan Xiongnu bangkit pada waktu yang bersamaan karena negara Xiongnu bergantung pada upeti Han. Kelemahan utama Xiongnu adalah kebiasaan suksesi lateral. Jika putra penguasa yang meninggal belum cukup umur untuk mengambil alih komando, kekuasaan beralih ke saudara laki-laki penguasa yang telah meninggal. Ini berhasil pada generasi pertama tetapi dapat menyebabkan perang saudara pada generasi kedua. Pertama kali ini terjadi, pada tahun 60 SM, pihak yang lebih lemah mengadopsi apa yang disebut Barfield sebagai 'strategi perbatasan dalam'. Mereka pindah ke selatan dan tunduk pada rezim Zhongyuan yang dominan dan kemudian menggunakan sumber daya yang diperoleh dari penguasa mereka untuk mengalahkan Xiongnu Utara dan membangun kembali kekaisaran. Kedua kalinya ini terjadi, sekitar tahun 47 M, strategi tersebut gagal. Penguasa selatan tidak mampu mengalahkan penguasa utara dan Xiongnu tetap terpecah belah.[21]
Asal muasa etnolinguistik
[sunting | sunting sumber]Banyak sejarawan masih memperdebatkan apakah suku Xiongnu merupakan suku kerabat terhadap suku Iran, Turki, Mongolik atau Yeniseia.[22] Namun, beberapa catatan sejarah Tiongkok mencatat bahwa suku Xiongnu merupakan keluarga Turkik dan bukan berasal dari suku Mongol. Catatan dari Zaman Negara Berperang mencatat bahwa bahasa Xiongnu berbeda dengan bahasa suku Xianbei yang notabene merupakan suku Mongolik atau Pra-Mongolik. Namun, asal usul Xiongnu masih menjadi bahan spekulasi.[23]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ Yuri Pines, The Everlasting Empire: The Political Culture of Ancient China and Its Imperial Legacy, Princeton University Press, 2012, hlm. 37. ISBN 1-4008-4227-1, 9781400842278:
- "The nomads had their own concept of Great Unity: they believed that the high god of the steppe, Heaven/Tengri, confers the right to rule on a single charismatic clan. This notion had already emerged vividly in the Xiongnu empire, and it surely influenced the nomadic rulers of China in their endorsement of the Chinese idea of unified rule."
- ↑ John Man, Attila: the barbarian king who challenged Rome, Bantam, 2005, hlm. 62. University of Michigan. ISBN 0-593-05291-9, 9780593052914:
- "The Xiongnu also worshipped Tengri. A history of the Han dynasty (206 BC - AD 8), written towards the end of the first century by the historian Pan Ku, in a section on the Xiongnu, says, 'They refer to their ruler by the title cheng li [a transliteration of tengri] ku t'u [son] shan-yii [king]' i.e. something like 'His Majesty, the Son of Heaven'. In early Turkish inscriptions, the ruler has his power from Tengri; and Tengri was the name given to Uighur kings of the eighth and ninth centuries."
- ↑ Ebrey, Patricia Buckley (2nd edition, 2010). The Cambridge Illustrated History of China. Cambridge University Press. hlm. 69. ISBN 978-0-521-12433-1. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
- ↑ Adas 2001: 88
- 1 2 Beckwith 2009: 404-405, nn. 51-52.
- ↑ Di Cosmo, 2004, hlm. 166
- ↑ Vaissière 2006
- ↑ Di Cosmo 2004: 186
- 1 2 Jerry Bentley, Old World Encounters: Cross-Cultural Contacts and Exchanges in Pre-Modern Times (New York: Oxford University Press, 1993), hlm. 36
- ↑ Barfield 1989
- ↑ Di Cosmo 1999: 885-966
- ↑ Yü, Ying-shih (1986). "Han Foreign Relations". The Cambridge History of China, Volume 1: The Ch'in and Han Empires, 221 B.C. - A.D. 220. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 384. ISBN 0-521-24327-0.
- ↑ Grousset 1970, hlm. 39.
- 1 2 3 De Crespigny, Rafe (1984). Northern frontier: the policies and strategy of the later Han Empire. Faculty of Asian Studies monographs. Canberra: Faculty of Asian Studies, Australian National University. ISBN 978-0-86784-410-8.
- ↑ Grousset 1970, hlm. 42–47.
- ↑ Book of Wei Vol. 102 (in Chinese)
- ↑ Gumilev L.N. "Ch. 15". История народа Хунну [History of Hun People] (dalam bahasa Rusia). Moscow. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 June 2009.
- ↑ Hyun Jim Kim (2015). "2 The So-called 'Two-Hundred year Interlude'". The Huns. Routledge. ISBN 978-1-317-34090-4.
- ↑ De Crespigny, Rafe (1984). Northern frontier: the policies and strategy of the later Han Empire. Faculty of Asian Studies monographs. Canberra: Faculty of Asian Studies, Australian National University. ISBN 978-0-86784-410-8.
- ↑ Tang 2010, ch.〈魏晋杂胡考 一 屠各〉.
- ↑ Barfield 1989, hlm. [halaman dibutuhkan].
- ↑ Bonmann, Svenja; Fries, Simon (2025). "Linguistic Evidence Suggests that Xiōng-nú and Huns Spoke the Same Paleo-Siberian Language". Transactions of the Philological Society (dalam bahasa Inggris) 1467-968X.12321. doi:10.1111/1467-968X.12321. ISSN 1467-968X.
- ↑ Lee 2017, hlm. 199.
Referensi
[sunting | sunting sumber]Sumber kuno
[sunting | sunting sumber]- Ban Gu et al., Book of Han, esp. vol. 94, part 1, part 2.
- Fan Ye et al., Book of Later Han, esp. vol. 89.
- Sima Qian et al., Records of the Grand Historian, esp. vol. 110.
Sumber modern
[sunting | sunting sumber]- Adas, Michael. 2001. Agricultural and Pastoral Societies in Ancient and Classical History, American Historical Association/Temple University Press.
- Beckwith, Christopher I. 2009. Empires of the Silk Road: A History of Central Eurasia from the Bronze Age to the Present. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-13589-2
- Di Cosmo, Nicola. 2004. Ancient China and its Enemies: The Rise of Nomadic Power in East Asian History. Cambridge University Press. (First paperback edition; original edition 2002)
- Vaissière, Étienne de la. 2006. Xiongnu. Encyclopædia Iranica online.
- Di Cosmo, Nicola. 1999. The Northern Frontier in Pre-Imperial China. In: The Cambridge History of Ancient China, edited by Michael Loewe and Edward Shaughnessy. Cambridge University Press.

